Interaksi masyarakat perantauan di kota Sorong dan Problematiknya

Oleh:
Risqiatul Hasanah

Pembangunan yang dilaksanakan negara kita dibidang ekonomi, sedang dalam proses peralihan menuju industrialisasi. Sejalan dengan pertumbuhan masyarakat kita yang lebih maju dewasa ini, terdapat kelompok-kelompok sosial yang memiliki corak dan ragam kehidupannya sendiri. Jika dahulu kita hanya mengenal pembidangan masyarakat kota dan desa, kini masyarakat kita dapat digolongkan kedalam berbagai kelompok, seperti: masyarakat industri, masyarakat nelayan, masyarakat petani, masyarakat transmigran, buruh perkebunan, dan lain seterusnya.
Masing-masing kelompok masyarakat tersebut disamping memiliki kesamaan-kesamaan, juga mempunyai perbedaan-perbedaan, baik dari segi watak, tingkah laku, tingkatan maupun mobilitas sosialnya. perbedaan-perbedaan itu yang biasanya kita sebut sebagai karakteritik sosial, yang menjadi sangat penting untuk dipahami bagi siapa saja yang ingin berhubungan dengannya, agar interaksi dengan mereka berjalan lebih lancar.

Gambaran Interaksi Masyarakat Perantauan di kota Sorong
Masyarakat perantauan secara teoritis maupun faktual mempunyai karakteristik sosial yang sedikit impersonal, dan gerak hidupnya sepertinya disesuaikan dengan kehidupan kota yang selalu mengejar tingkat produksi. Jika diamati secara singkat, maka lingkaran kehidupan masyarakat perantauan ditinjau dari aspek psikologi sosial dapat dibedakan dalam dua keadaan yaitu:
1. Lingkaran kehidupan mereka di perusahaan atau tempat mereka bekerja. Dalam situasi seperti ini, mereka dipisah-pisahkan dalam satuan-satuan kerja berdasarkan keahlian, atau pembidangan pekerjaan. Mereka dibedakan dalam status, hak, dan kewajiban berdasarkan aturan-aturan perusahaan, sehingga terdapat dua lapisan yaitu lapisan karyawan dan lapisan pimpinan.
2. Lingkaran kehidupan karyawan industri di masyarakat, dimana mereka bertempat tinggal. Dalam situasi ini mereka tinggal diperumahan karyawan dan tinggal bersama masyarakat disekitar industry atau perusahaan dimana mereka bekerja.

Refleksi lain dari kehidupan di kompleks perumahan ialah seringkali tumbuhnya sikap elitis yang berlebihan. Sikap elitis ini terjadi karena terhambatnya interaksi lebih luas dengan masyarakat, akibat lokasi pemukiman yang khusus. Dunia kerja mereka dengan dunia sosialnya hampir tidak memiliki jarak dan tidak ada variasi kehidupan yang lebih bernuansa.
Dalam situasi kehidupan transisi seperti itu tidak jarang menimbulkan problema sosial. Penduduk setempat tidak sepenuhnya memberikan peran sosial yang layak dimana mereka tinggal. Kehidupan urban juga mendorong mereka untuk memulai berlatih dengan pola hidup baru, yaitu hidup yang disandarkan pada uang.
Masa transisi membuat sebagian besar mereka kehilangan pegangan ditambah tidak adanya lembaga atau tokoh perorangan sebagai kontrol sosial, yang mampu mendampingi mereka dan memberi petunjuk dalam meniti masa perubahan itu. Ujungnya banyak tindakan kriminal sebagai jalan pintas.
Adapun dalam interaksi sosial mereka dengan sesama rekan kerja, rasa solidaritas sebagai kawan sekerja bisa tumbuh akan tetapi semangat bersaing dan gosip tidak bisa dihindarkan.

Problematik Umum Masyarakat Perantauan
Pada lingkaran masyarakat perantauan terdapat banyak problematik masyarakatnya, yaitu:
1. Kontrol agama lemah dan adanya dominasi aspek ekonomi
Masyarakat perantauan dapat diketahui memiliki ciri-ciri bahwa kegiatan ekonomi lebih dominan. Industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan selalu mendorong perubahan masyarakat dan kemudian masyarakat berusaha mengadakan adaptasi terhadap perubahan tersebut.
Salah satu kegiatan yang menonjol ialah bahwa dalam masyarakat industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan konstelasi organisasi dan lembaga kemasyarakatan berkembang berdasarkan asas fungsionalitas. Karena industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan melahirkan bagian-bagian bidang pekerjaan dalam komposisi yang ketat dan deferensiasi, hal ini membuat masyarakat terkeping-keping dalam kelas-kelas sosial yang luas dan tajam.
Dalam masyarakat yang sistem sosialnya sangat defferensiasif, maka nilai, norma, dan suasana praktek keagamaan sering kali tidak berpengaruh langsung terhadap aspek kehidupan lain. Ada implikasi terhadap kehidupan individu dalam suasana seperti ini, yakni proses defferensiasi yang menimbulkan konflik.

2. Problem latar belakang kultural yang majemuk
Masyarakat perantauan pada dasarnya adalah imigran atau urban dalam arti mereka ini berasal dari latar belakang budaya, suku, dan kebiasaan yang sangat heterogen. Dikawasan kehidupan industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan, mereka satu sama lain melakukan kontak, bukan hanya memiliki kesamaan watak dan pola tingkah laku namun juga karena alasan yang bersifat kultural, seperti melakukan upacara adat atau meneruskan tradisi.
Secara politis bahwa pola interaksi sosial berdasarkan persamaan adat dan kebudayaan tidak dibenarkan. Namun, betapapun secara faktual kecenderungan itu tetap ada. Sentimen kultural masih tercermin dalam kehidupan pergaulan antar manusia. Jika dikawasan tersebut jumlah mereka mayoritas dan memegang kekuasaan, maka kelompok-kelompok budaya minoritas akan mengalah.

3. Problem manusia yang “ Sepi ”
Manusia perantauan seperti ini sebenarnya adalah orang-orang yang kesepian dari segi sentimen kultural maupun agama. Dalam dinamika industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan yang rutin dan rasional seperti itu, mereka adalah orang-orang yang tercabut dari akar kekerabatan, tradisi, dan kebiasaan bergaul dikampungnya. Oleh karena itu, dalam kawasan baru mereka berusaha memperoleh keakraban, dan kasih sayang. Jika hal-hal seperti ini sulit didapatkan, maka kompensasinya mereka bisa jadi pergi ke tempat-tempat yang membawa dampak negatif.

DAFTAR PUSTAKA

Amidhan,dkk, Methodologi Penerangan Agama Pembinaan Rohani Pada Masyarakat Industri, Jakarta : Proyek Penerangan Bimbingan Khutbah/Dakwah Agama, 1984.

About these ads

Tentang risqiyani

Mir'ah Wa Mar'ah

Posted on Juni 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: