JENIS GAYA BELAJAR SISWA

Teringat, ada beberapa orang teman saya semasa sekolah tingkat MAN dulu, kerjaannya kebanyakan tidur di kelas. Karena kita berasrama, di asrama saat malam hari juga tidak terlihat belajar. Saat teman-temannya belajar dengan suara keras, ia asyik bermain atau makan dengan teman-teman yang lain. Tetapi anehnya, saat ujian dilakukan, mereka mendapatkan nilai yang baik-baik. Pertanyaannya, kapan mereka belajar?

Belakangan, setelah memahami konsep kemampuan menyerap pengetahuan yang berbeda-beda dalam bentuk Visual, Auditory, dan Kinestetik (VAK), baru saya agak sedikit mengerti mengapa mereka bisa enak-enakan tidur di kelas tetapi mendapatkan nilai baik. Kelihatannya mereka adalah tipe pembelajar auditory, yaitu para pembelajar yang bisa menyerap informasi dan mata pelajaran, justru lebih banyak dari mendengar dibandingkan dengan membaca secara langsung. Jadi, mereka belajar saat orang lain membaca pelajarannya keras-keras. Di situlah mereka bisa lebih banyak menyerap informasi. Selanjutnya, dengan kecerdasan yang mereka miliki, informasi itu dengan mudah dikelola dan disimpan sehingga pas ujian tinggal membuka informasi itu dari simpanan memorinya. Bukannya tidak belajar, tetapi begitulah cara mereka belajar.

Ada seorang anak di sekolah, sebut saja Budi. Ia sebenarnya anak yang pintar, tetapi karena sering tidak memperhatikan saat guru mengajar di kelas, Budi diberi label sebagai “anak nakal”. Ia sering membuat kegaduhan saat belajar, mengganggu teman yang lain, atau bermain-main sendiri saat guru mengajar. Ibu Andi, salah seorang guru di sekolah tersebut, mencoba memecahkan masalah yang dihadapi Budi. Dalam beberapa kali pertemuan, ia melakukan observasi kelas bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas. Setelah beberapa waktu mengumpulkan informasi, ia mengambil satu kesimpulan penting, bahwa Budi tidak suka dengan cara mengajar guru-gurunya, terutama jika hanya disampaikan dalam bentuk ceramah di depan kelas. Karena itu, saat guru mengajar, ia lebih asyik untuk bermain dengan anak-anak yang lain.

Ibu Andi kemudian mencoba cara yang berbeda dalam mengajar. Saat ia masuk kelas, ia mengajak siswa untuk keluar kelas dan melakukan pembelajaran di luar kelas. Ia bagi kelasnya menjadi beberapa kelompok, kemudian melakukan berbagai pekerjaan kelompok sesuai dengan tugas-tugas yang telah diberikan. Budi ternyata sangat antusias dengan model pembelajaran semacam ini. Ia tidak lagi melakukan perbuatan iseng atau nakal terhadap teman-temannya, bahkan ia terus menyemangati anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Lain lagi permasalahan yang dialami Ibu Parti. Problemnya sama, beberapa anak didiknya tidak mau mendengarkan saat ia mengajar di depan kelas. Ia lalu mencoba mengubah metode belajar mengajarnya. Setiap hari, ia menyiapkan gambar-gambar, poster, peta, bahkan beberapa film yang sesuai dengan tema yang diajarkan. Ternyata cara tersebut berhasil. Para siswa mulai antusias dengan pelajaran yang diberikan, dan merekapun lambat laun menyenangi proses belajar mengajar tersebut. Apa yang dialami Ibu Andi dan Ibu Parti merupakan masalah umum yang sering dialami oleh guru-guru di sekolah. Sebagai anak-anak yang masih dalam umur lebih banyak bermain, mengatur mereka agar mengikuti proses belajar mengajar di kelas dengan baik bukanlah perkara yang mudah. Salah satu hal yang sering dilupakan oleh para guru adalah bahwa setiap anak dengan latar belakang berbeda mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam memperoleh dan mengolah informasi. Gaya inilah yang disebut dengan gaya belajar (learning style).

Banyak ahli yang menggunakan istilah berbeda-beda dalam memahami gaya belajar ini. Tetapi secara umum, menurut Bobby DePotter terdapat dua benang merah yang disepakati tentang gaya belajar ini. Pertama adalah cara seseorang menyerap informasi dengan mudah, yang disebut sebagai modalitas, dan kedua adalah cara orang mengolah dan mengatur informasi tersebut. Modalitas belajar adalah cara kita menyerap informasi melalui indera yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan berbeda-beda dalam menyerap informasi. Terdapat tiga modalitas belajar ini, yaitu apa yang sering disingkat dengan VAK: Visual, Auditory, Kinestethic.

Visual

Modalitas ini menyerap citra terkait dengan visual, warna, gambar, peta, diagram. Model pembelajar visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata. Beberapa ciri dari pembelajar visual di antaranya adalah:

  1. Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar.
  2. Suka mencoret-coret sesuatu, yang terkadang tanpa ada artinya saat di dalam kelas
  3. Pembaca cepat dan tekun
  4. Lebih suka membaca daripada dibacakan
  5. Rapi dan teratur
  6. Mementingkan penampilan, dalam hal pakaian ataupun penampilan keseluruhan
  7. Teliti terhadap detail
  8. Pengeja yang baik
  9. Lebih memahami gambar dan bagan daripada instruksi tertulis

Auditory

Model pembelajar auditory adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditory ini. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah:

  1. Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan
  2. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  3. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  4. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.
  5. Bagus dalam berbicara dan bercerita
  6. Berbicara dengan irama yang terpola
  7. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  8. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  9. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  10. Suka musik dan bernyanyi
  11. Tidak bisa diam dalam waktu lama
  12. Suka mengerjakan tugas kelompok

Kinestetik

Model pembelajar kinestetik adalah pembelajar yang menyerap informasi melalui berbagai gerakan fisik. Ciri-ciri pembelajar kinestetik, di antaranya adalah:

  1. Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak
  2. Berbicara dengan perlahan
  3. Menanggapi perhatian fisik
  4. Suka menggunakan berbagai peralatan dan media
  5. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
  6. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
  7. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
  8. Belajar melalui praktek
  9. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  10. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
  11. Banyak menggunakan isyarat tubuh
  12. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama
  13. Menggunakan kata-kata yang menandung akso
  14. Menyukai buku-buku yang berorientasi pada cerita
  15. Kemungkinan tulisannya jelek
  16. Ingin melakukan segala sesuatu
  17. Menyukai permainan dan olah raga.

Selain berhubungan dengan cara menyerap informasi, gaya belajar juga berhubungan dengan bagaimana seseorang memproses dan mengolah informasi tersebut. Howard Gardner menyebutkan, bahwa cara seseorang memproses dan mengolah informasi ini sangat erat berhubungan dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam pandangan Gardner, kecerdasan ini tidak hanya tunggal, tetapi masing-masing orang memiliki kecerdasan berbeda-beda, yang disebut sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Kecerdasan majemuk bisa dirinci menjadi delapan kecerdasan, yaitu:

  1. Kecerdasan Linguistik, berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat.
  2. Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
  3. Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain.
  4. Kecerdasan Musikal, berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
  5. Kecerdasan kinestetik, berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
  6. Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati.
  7. Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri.
  8. Kecerdasan Naturalis, berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar.

Dari delapan kecerdasan di atas, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk memiliki salah satu kecerdasan yang menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Kecerdasan yang menonjol inilah yang perlu dieskplorasi karena merupakan kecenderungan seseorang yang paling besar yang menjadi gaya belajarnya.

Seseorang dengan kecenderungan pembelajar kinestetis misalnya, sangat mungkin memiliki kecerdasan kinestetis juga, di mana kecenderungan belajarnya lebih banyak menggunakan pembelajaran fisik, dalam arti lebih senang bergerak daripada diam. Hal ini yang mungkin terjadi pada Budi di awal cerita ini. Karena lebih nyaman dengan model pembelajaran kinestetik, ia lebih suka untuk melakukan proses belajar di luar keras, melakukan praktik dan kerja kelompok, serta simulasi dan berbagai permainan yang menyenangkan.

Mengetahui Cara Belajar Siswa

Dalam prakteknya tidak mudah mengetahui gaya belajar siswa. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui gaya belajar ini. Cara Pertama, adalah dengan menggunakan observasi secara mendetail terhadap setiap siswa melalui penggunaan berbagai metode belajar mengajar di kelas. Gunakan metode ceramah secara umum, catatlah siswa-siswa yang mendengarkan dengan tekun hingga akhir. Perhatikan siswa-siswa yang “kuat” bertahan berapa lama dalam mendengar. Klasifikasikan mereka sementara dalam golongan orang-orang yang bukan tipe pembelajar yang cenderung mendengarkan.

Dari sini kita bisa mengklasifikasikan secara sederhana tipe-tipe siswa dengan model-model pembelajar auditori yang lebih menonjol. Metode lain bisa digunakan, misalnya dengan memutar film, menunjukkan gambar atau poster, dan juga menunjukkan peta ataupun diagram. Dengan proses belajar mengajar seperti ini, kita bisa melihat para siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual dan juga mempunyai kecerdasan visual-spasial akan lebih tertarik dan antusias.

Setelah itu, cobalah dengan metode pembelajaran menggunakan praktek atau simulasi. Para pembelajar kinestetik tentu saja akan sangat antusias dengan model belajar mengajar semacam ini. Begitu seterusnya kita melihat bagaimana reaksi siswa terhadap setiap model pembelajaran sehingga lambat laun kita akan lebih mudah memahami dan mengetahui kecenderungan gaya belajar yang mereka.

Cara Kedua, adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan proses penyatuan bagian-bagian yang terpisah, misalnya menyatukan model rumah yang bagian-bagiannya terpisahkan. Ada tiga pilihan cara yang bisa dilakukan dalam menyatukan model rumah ini, pertama adalah melakukan praktek langsung dengan mencoba menyatukan bagian-bagian rumah ini setelah melihat potongan-potongan yang ada; kedua adalah dengan melihat gambar desain rumah secara keseluruhan, baru mulai menyatukan; dan ketiga adalah petunjuk tertulis langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut dari awal hingga akhir.

Pembelajar visual akan cenderung memulai dengan melihat gambar rumah secara utuh. Ia lebih cepat menyerap melalui gambar-gambar tersebut sebelum menyatukan bagian-bagian rumah secara keseluruhan. Pembelajar auditory cenderung membaca petunjuk tertulis mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah, dan tidak terlalu mempedulikan gambar yang ada. Sedangkan pembelajar kinestetik akan langsung mempraktekkan dengan mencoba-coba menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain tanpa terlebih dahulu melihat gambar ataupun membaca petunjuk tulisan. Dari pengamatan terhadap cara kerja siswa dalam menyelesaikan tugas ini, kita akan lebih memahami gaya mengajar siswa secara lebih mendetail.

Cara Ketiga, merupakan cara yang lebih komprehensif yaitu dengan melakukan survey atau tes gaya belajar. Namun demikian, alat survey ataupun tes ini biasanya mengikat pada satu konsultan atau psikolog tertentu sehingga jika kita ingin melakukan tes tersebut harus membayar dengan sejumlah biaya tertentu, yang terkadang dirasa cukup mahal. Namun demikian, karena menggunakan metodologi yang sudah cukup teruji, biasanya survey atau tes psikologi semacam ini mempunyai akurasi yang tinggi sehingga memudahkan bagi guru untuk segera mengetahui gaya belajar siswa. Nah, dari ketiga cara mengetahui gaya belajar siswa di atas tergantung kita untuk menggunakan cara yang mana. Cara pertama dan kedua membutuhkan usaha yang keras dari kita dalam memetakan dan mengklasifikasikan gaya mengajar siswa yang terdapat dalam satu kelas. Namun demikian, kedua cara ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Untuk lebih akurat, memang cara ketiga bisa diambil, namun konsekuensinya tentu saja perlu mengeluarkan biaya untuk survey ataupun tes gaya belajar.

Mengajar dengan Gaya Belajar Siswa yang Berbeda

Setelah mengetahui gaya belajar siswa dan kecenderungan kecerdasan yang paling menonjol dimilikinya, saatnya sebagai guru kita menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan gaya belajar mereka masing-masing?

Untuk pembelajar visual, di mana lebih banyak menyerap informasi melalui mata, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis.
  2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram, flow-chart menjelaskan sesuatu.
  3. Putarkan film.
  4. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan.
  5. Gunakan berbagai ilustrasi dan gambar.
  6. Tulis ulang apa yang ada di papan tulis.
  7. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.

Untuk pembelajar auditory, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll)
  2. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan nyaring dan suara keras.
  3. Seringlah memberi pertanyaan kepada mereka.
  4. Membuat diskusi kelas.
  5. Menggunakan rekaman. Biarkan mereka menjelaskan dengan kata-kata.
  6. Biarkan mereka menuliskan apa yang mereka pahami tentang satu mata pelajaran.
  7. Belajar berkelompok.

Sedangkan untuk pembelajar kinestetic, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui gerakan fisik, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:

  1. Perbanyak praktek lapangan (field trip).
  2. Melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses.
  3. Membuat model atau contoh-contoh.
  4. Belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dalam posisi yang nyaman, walaupun tidak biasa dilakukan oleh murid-murid yang lain.
  5. Perbanyak praktek di laboratorium.
  6. Boleh menghapal sesuatu sambil bergerak, berjalan atau mondar-mandir misalnya.
  7. Perbanyak simulasi dan role playing.
  8. Biarkan murid berdiri saat menjelaskan sesuatu.

Dalam prakteknya, satu kelas biasanya terdiri dari tiga kelompok pembelajar semacam ini. Karena itulah, tidak bisa seorang guru hanya mempraktekkan satu metode belajar mengajar untuk diterapkan di seluruh kelas. Bayangkan jika guru mengajar hanya dengan metode ceramah mulai dari awal hingga akhir. Jika dalam satu kelas kecenderungannya lebih banyak pembelajar visual atau kinestetis, maka yang terjadi adalah suasana yang tidak menyenangkan. Orang-orang visual dan kinestetis akan mulai merasa bosan dengan apa yang diomongkan, hingga yang terjadi mereka akan mulai mencari perhatian dengan berbagai hal yang mengganggu. Ada yang tidak mendengarkan, tidur di kelas, ataupun berlarian ke sana kemari karena tidak tahan untuk terus menerus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru di dalam kelas.

Nah, dalam situasi semacam ini, guru-guru kreatif dan mempunyai inovasi yang tinggi akan segera mengganti proses belajar mengajar dengan mempertimbangkan keragaman gaya belajar siswa. Tidak lagi kemudian menggunakan metode ceramah, tetapi menggunakan metode yang lain yang memungkinkan, misalnya diskusi kelompok ataupun mengajak mereka dalam suatu permainan agar tidak membosankan.

Namun demikian, yang masih sering terjadi adalah, karena guru merasa tidak diperhatikan, mereka kemudian menggunakan kekuasaan mereka sebagai guru dengan melakukan bentakan yang keras, biasanya disertai ancaman kalau tidak mendengarkan maka mereka akan mendapatkan hukuman. Pola belajar mengajar semacam ini tidak saja membuat proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma bagi anak didik, tetapi juga mengaduk-aduk dan menyita emosi guru secara terus menerus. Akibatnya, bisa ditebak, tekanan kerja yang semakin berat membuat proses belajar mengajar bagi guru menjadi beban yang tidak lagi menyenangkan.

Situasi semacam ini melahirkan “kalah-kalah”, di mana guru kalah karena walaupun sudah bekerja keras tetapi tidak bisa menikmati pekerjaannya, sementara bagi siswa juga kalah karena proses belajar mengajar tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan, tetapi membuat trauma dan kesedihan untuk belajar. Karena itulah, kreativitas dan kemampuan guru untuk memahami gaya belajar siswa sangat penting agar suasana di dalam kelas bisa dibangun dengan lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Dengan demikian, sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan, bagi guru, siswa, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam

Oleh:

Risqiatul Hasanah

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah Tuhan di bumi karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan. Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.

Adapun Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah Swt., sedangkan sains bertumpu pada diagnosis, eksperimen, dan penarikan konklusi. Pemikiran Islam merupakan pemikiran cemerlang yang tinggi tarafnya sehingga menjunjung harkat manusia sampai pada stratifikasi tinggi hingga berhasil meraih penemuan dalam bidang sains dan teknologi. Al-Qur’an bisa mendorong manusia untuk memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi lebih dari satu ayat, juga mendorong manusia agar merenungkan dirinya sendiri.

Bagi kita cukup bahwa Al-Qur’an tidak berbenturan bahkan sama sekali tidak bertabrakan dengan salah satu fakta ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal. Dan bagi kita cukup, bahwa Al-Qur’an inilah yang telah membukakan jendela-jendela pemikiran orang-orang mukmin, dan menumbuhkan kerinduan dalam diri mereka untuk melakukan penghayatan, perenungan, kontemplasi, penelitian, analisis, dan telaah alami.

Islam memandang bahwa manusia mengetahui kebenaran, meskipun ada bagian rahasia yang tidak diketahui. Manusia mampu mengetahui pengetahuan, kebenaran sebatas modalitas (akal, panca indera, dan pengetahuan permulaan) yang dimilikinya dan berada dalam ketidaktahuan sebatas diluar kapasitas modalitasnya.[1] Selama manusia memiliki persyaratan normal, yaitu kemampuan fisik, mental, lahir dan batin yang sehat, maka ia akan dapat mengetahui. Sementara keterbatasan manusia merujuk pada keterbatasan instrinsik manusiawi ataupun ekstrinsik non manusiawi, keterbatasan yang meskipun ada, namun tidak sampai berakibat menggugurkan nilai kebenaran ataupun keabsahan pengetahuan.

Modalitas manusia untuk mencapai pengetahuan adalah dengan potensi yang dimiliki pada diri manusia, yaitu pancaindera, proses akal, hati, dan informasi terdahulu yang benar.

 

 


 

Formulasi Struktur Manusia Berdasarkan Islam

Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; yang disusun dengan pola tertentu; pengaturan unsur atau bagian suatu benda.[2] Berdasarkan pandangan pada ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam teori struktur manusia, Al-Ghazali menguraikan bahwa struktur manusia (eksistensi manusia) terdiri dari : An-nafs (subtansi yang berdiri sendiri dan bertempat ditubuh), Ar-ruh (panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh darah, otot-otot, dan syaraf-syaraf), dan Al-jism (yang tersusun dari unsur-unsur materi).

Penentuan struktur kepribadian tidak dapat terlepas dari pembahasan subtansi manusia, sebab dengan pembahasan subtansi tersebut dapat diketahui hakikat dan dinamika prosesnya. Pada umumnya para ahli membagi subtansi manusia atas jasad, ruh tanpa memasukkan nafsu.[3]

Masing-masing aspek yang berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh merupakan substansi yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi, karena saling membutuhkan maka diperlukan perantara yang dapat menampung kedua naluri yang berlawanan, yang dalam terminologi psikologi Islam disebut dengan nafs.

1)      Substansi jasmani

Jasad adalah substansi manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik. Organisme fisik manusia lebih sempurna di banding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Setiap makhluk biotik lahiriyah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air. Unsur inilah yang akan rusak apabila telah mati.

 

Al-Ghazali memberikan sifat komponen ini dengan dapat bergerak, memiliki ras, berwatak gelap dan kasar, dan tidak berbeda dengan benda-benda lain. Sementara Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi, sedang menurut Ibnu Maskawaih bahwa badan sifatnya material, Ia hanya dapat menangkap yang abstrak. Jika telah menangkap satu bentuk kemudian perhatiannya berpindah pada bentuk yang lain maka bentuk pertama itu lenyap.

 

2)      Substansi ruhani

Ruh merupakan substansi psikis manusia yang menjadi esensi kehidupannya, merupakan unsur yang paling halus, bersifat suci dan Ilahi karena berasal dari Ilahi, kecenderungannya kepada yang suci, bersih dan mulia, kekal dalam arti tidak hancur karena hancurnya badan jasmani. Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa roh itu memang sesuatu yang ghaib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia, akan tetapi pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghaib masih terbuka karena tidak ada nash agama yang menutup kemungkinannya.[4] Hal ini sesuai dengan firman firman Allah Swt.

قَلِيلا إِلا الْعِلْمِ مِنَ أُوتِيتُمْ وَمَا رَبِّي أَمْرِ مِنْ الرُّوحُ قُلِ الرُّوحِ عَنِ وَيَسْأَلُونَكَ

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.            (QS. Al-Israa’ : 85)

Adapun golongan yang tidak mempercayai adanya ruh yaitu mereka yang menganut paham Historis Materialism, mereka menolak semua alasan-alasan tentang keberadaan ruh.[5]

3)      Substansi nafsani

merupakan unsur penghubung antara jasmani dan ruhani, karena itu ia dapat bersifat dan berkecenderungan seperti jasmani (ilham fujur), tetapi disisi lain ia juga memiliki kecenderungan dan sifat seperti halnya ruhani (ilham taqwa). Keduanya memiliki tarikan yang sama kuat.[6]

 

Aktualisasi nafs membentuk kepribadian manusia. Alqur’an Menyebut empat jenis nafs sesuai dengan potensinya yaitu:

  • Nafs Mutma’innah ; memiliki daya untuk perbuatan baik. Hal ini karena nafsu ini telah suci, karena kesuciannya itulah ia senantiasa terdorong untuk melakukan hal-hal baik.
  • Nafs Mulhamah/Sufiah ; mempunyai potensi kesadaran yang mudah menerima ilmu dan pengetahuan.
  • Nafs Ammarah ; memiliki potensi dan kecenderungan pada hasrat biologis, syahwat, hedonis, bahkan cenderung kepada kejelekan. Merupakan gudang potensi untuk survivalitas hidup manusia (pendorong motivasi keduniaan), karena itu ia tidak boleh dimatikan, melainkan harus dikendalikan.
  • Nafs Lawwamah ; gudang potensi sifat psikologis (emosi  dan perasaan) serta rasional. Karena itulah selalu tidak istiqomah dalam satu keadaan antara ingat dan lupa, menerima lalu menolak, cinta tapi benci, dan seterusnya. Selain sisi buruk juga mempunyai daya positif dari adanya sifat-sifat baik, seperti yakin dan dermawan.

 

 

 


 

Bagan Struktur Daya Jiwa Manusia Berdasarkan Pemahaman

Terhadap Al-Qur’an[7]

Aspek  Jismiah

Badan

Kognitif jismiyah, yaitu kemampuan organ fisik biologis, system syaraf, sel, kelenjar, berupa: makan, tumbuh, dan reproduksi

Dimensi  ar-Ruh

Aspek  Ruhaniah

Dimensi  al-Fitrah

Al-‘Aql

 

Aspek  Nafsiyah

Al-Qalb

An-Nafsu

 

  • nafsu mutma’innah

 

  • nafsu mulhamah

 

  • nafsu ammarah

 

  • nafsu lawwamah

 

berkecenderungan  kepada hal-hal yang baik. pola kerjanya bersifat bolak-balik, hal ini karena sifat kerjanya yang qalaba (bolak-balik)

berkecenderungan kepada hal yang buruk, pola kerjanya menyuruh, sebagai daya dorong  terutama dalam eksistensi hidup

bersifat memutuskan , mengikat, menimbang, dan senantiasa berfikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam

Proses artinya  runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Proses kejiwaan terbentuk dalam waktu yang relatif lama.[8] Hal ini dapat disimpulkan bahwa konsep pembentukan karakter manusia dapat dilihat dari banyak aspek. Menurut ilmuan Barat lebih memandang manusia dari kaca mata empiristik. Sedangkan dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah dimana terdapat daya-daya yang dapat memunculkan sebuah sikap dan perilaku yang tidak lepas dari stimulus dari luar. Artinya, Islam memandang, karakter manusia tidak murni karena faktor potensi, tetapi juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Jadi proses kejiwaan manusia menurut Islam yang paling berperan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang adalah[9] :

  • Faktor Keturunan: studi dan riset tentang DNA menyebutkan bahwa faktor keturunan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang.
  • Faktor Sosial: lingkungan sekitar mempunyai peranan yang tidak dapat disepelekan dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Faktor sosial merupakan lingkungan masyarakat yang didalamnya terdapat interaksi individu dengan individu lain. Lingkungan ada 3 macam yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat. Pengaruh lingkungan keluarga lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat.[10] Akan tetapi melalui kerjasama yang baik antara 3 lingkungan tersebut (orang tua di rumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat) maka aspek kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengamalan) ajaran yang akan diajarkan akan terbentuk pada diri anak. [11]

 

 

Dari penjabaran artikel penulis diatas mengenai “Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam” dapat penulis simpulkan bahwa :

  1. Berdasarkan pandangan pada ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam teori struktur manusia, bahwa struktur manusia (eksistensi manusia) terdiri dari: An-nafs (subtansi yang berdiri sendiri dan bertempat ditubuh), Ar-ruh (panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh darah, otot-otot, dan syaraf-syaraf), dan Al-jism (yang tersusun dari unsur-unsur materi).
  2. Manusia dalam perkembangan proses kejiwaannya dengan sudut kajian Qur’ani tidak lepas dari lingkungannya. Begitu pula dalam proses mematangkan kepribadiannya, peran dan pengaruh lingkungan tidak bisa dinomorduakan, walaupun tidak pula menempati nomor satu karena ada faktor keturunan yang juga berperan sama besarnya. Dari peralatan fisik dan psikis  dalam diri individu yang membentuk karakternya yang unik dalam penyesuaian dengan lingkungan inilah maka terbentuk pribadi yang dinamis.

 

Dengan adanya wawasan mengenai “Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam” maka penulis mengharapkan untuk selalu mawas diri, instropeksi agar kita bisa menilai posisi dan kondisi kita saat ini untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Yadi Purwanto, Psikologi Islami, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

WWW.Google.Com.

Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2004.

Alex Sobur, Psikologi Umum, Jakarta: Pustaka Setia, 2003.

Karim Asy-Syadzili, Inspiring Women, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Grup, 2008.

Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984.

Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 2003.

Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Yadi Purwanto, Psikologi Islami, (Bandung: Refika Aditama, 2007, Cet 1),h. 126.

[2] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun. (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),h. 1043.

[3] Internet diakses di  WWW.Google.Com. tgl. 27 September 2010. jam 21.15 WIT

[4] Internet diakses di  WWW.Google.Com. tgl. 05 Oktober 2010. jam 23.00 WIT.

[5] Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984, Cet 2),h. 257.

[6] Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009),h.27.

[7] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, (Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h.237.

[8] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Jakarta: Pustaka Setia, 2003, Cet 1),h. 510.

[9] Karim Asy-Syadzili, Inspiring Women, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Grup, 2008, Cet 1),h. 12.

[10] Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Offset, 2003), h. 27.

[11] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), h.171.

PERAN MAHASISWA MENUJU PERGURUAN TINGGI ISLAM IDEAL

OLEH : LUDIYANI

Di era globalisasi yang semakin modern dan maju dewasa ini, turut serta memajukan kualitas teknologi diberbagai bidang. Salah satunya dapat kita lihat begitu banyak Perguruan Tinggi yang cukup mewah. Hal ini jika dilihat dari penampakan bangunan kampus dan sarana pendidikannya yang cukup lengkap dan bermutu tinggi. Tetapi fakta hari ini kita masih sering melihat mahasiswa yang kurang bermutu. Sehingga tidak mampu melahirkan Sarjana yang berintelektual tinggi yang nantinya siap menghadapi era globalisasi yang semakin menantang. Dimana hal ini juga merupakan kewajiban pokok mahasiswa yang perlu dijunjung tinggi. Inilah hal penting yang perlu di garis bawahi bagi mahasiswa sebagai insan akademik yang nantinya akan maju ke depan mewakili rakyat. Namun konkritnya hari ini kita masih sering melihat mahasiswa yang tidak malu jika sampai hampir lulus kuliah tidak memiliki kreatifitas berpikir untuk kemajuan dirinya. Tetapi hanya sibuk dengan dunianya sendiri sehingga munculah mahasiswa-mahasiswa yang menyimpang. Hal ini dapat di lihat dari adanya mahasiswa ala kadar artinya mahasiswa yang hanya sekedar menjalankan aktifitas dari pada nganggur. Kuliah baginya adalah lanjutan dari rutinitas sekolah yang selama ini di jalani, hanya karena di suruh orang tua, karena teman-temannya kuliah, atau sekedar mendapatkan titel. Adanya mahasiswa yang mengikuti pergerakan negatif. Mahasiswa model seperti ini sangat kacau karena mereka berkiblat pada orang-orang yang negatif.

Perguruan Tinggi Islam Ideal
Perguruan Tinggi Islam ideal ialah Perguruan Tinggi Islam yang bermutu baik dari segi fisik maupun mutu pendidikan, melekatnya nilai-nilai Islam dalam segala bidang geraknya dan terkesannya nilai-nilai Islam dalam tingkah laku warga kampus.
Ideal dalam segi fisik misalnya gedung kuliah yang memadai seperti tersedianya Laboratorium Penelitian, Sarana Olahraga yang lengkap dan Perpustakaan yang memiliki referensi yang memadai pula.
Melekatnya nilai-nilai Islam dalam segala bidang geraknya dapat dilihat dari setiap kegiatannya yang menaburkan nilai-nilai Islam di dalamnya, seperti adanya Lembaga Dakwah Kampus, HMI dan Kegiatan-kegiatan lain yang bernafaskan Islam.
Di sisi lain yang merupakan ciri Perguruan Tinggi Islam ideal adalah tercerminnya nilai-nilai Islam dalam tingkah laku warga kampus, sehingga terciptanya lingkungan kampus yang nyaman dan tidak kaku. Sehingga terwujudnya Tri Dharma Perguruan Tinggi dan terciptanya Perguruan Tinggi Islam yang ideal.

Peran Mahasiwa
Sebagai insan akademik yang bermoral dan berakhlak mulia hendaknya mahasiswa mampu memberikan andil untuk Perguruan Tingginya yang tercinta. Hendaknya mahasiswa mampu menyulap Perguruan Tingginya menjadi tempat yang paling nyaman untuk menimba ilmu yang menjadi rutinitas kesehariannya, mampu menentralkan suasana kaku atau tegang dalam setiap proses belajar. Hal ini dapat dilakukan mahasiswa dengan lebih meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi, misalnya aktif dalam diskusi organisasi sehingga dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada dosen atau pihak terkait guna mencapai perubahan yang lebih baik yaitu menuju Perguruan Tinggi Islam yang ideal.
Dengan memiliki kemampuan-kemampuan tadi maka mahasiswa dapat berperan aktif dalam segala kegiatan kampus tanpa kesulitan. Selain berperan sebagai mahasiswa sebagai pemberi kritik dan saran yang membangun. Selain itu juga mahasiswa berperan sebagai pelaku pendukung terciptanya keselarasan kampus serta sebagai wakil dari masyarakat yang mampu menyampaikan aspirasi rakyat.

Peningkatan Mutu
Untuk mencetak Perguruan Tinggi Islam yang ideal, maka sebagai insan akademik harus berperan aktif diantaranya dalam hal peningkatan mutu pendidikan. Setiap mahasiswa hendaknya mampu meningkatkan kecakapannya minimal dalam beberapa hal yaitu : Mampu menguasai bidang studi (ilmu) yang ditekuninya dalam teori maupun praktek, Mampu berbahasa inggris baik secara lisan maupun tertulis dan dapat mengoperasikan komputer. Namun untuk mencapai taraf demikian tidaklah mudah, tidak cukup jika hanya mengandalkan institusi pendidikan di kampus. Tetapi untuk menciptakan Perguruan Tinggi Islam yang ideal dalam hal mutu pendidikan membutuhkan mahasiswa yang berkomitmen, karena itu peran mahasiswa sangat penting.
Sebagai aplikasi dari tujuan yang telah di rintis dan di sepakati, maka peran mahasiswa sebagai peserta didik berusaha untuk meningkatkan minat, motivasi, kesiapan dan kesadaran situsionalnya.
Minat merupakan penentu sikap keseriusan para mahasiswa dalam mempelajari bidangnya karena itulah minat perlu di tingkatkan. Motivasi berperan sebagai pengobar semangat belajar, maka untuk meraih tujuan yang telah di kemukakan tadi, maka sebagai mahasiswa perlu memiliki motivasi. Kesiapan, bermuara dari kesiapan fisik dan mental mahasiswa untuk melakukan kegiatan kegiatan belajar yang lebih nyaman dan tidak mengalami hambatan. Kesadaran situsional sangat diperlukan sekali karena hal ini berfungsi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan yang terjadi dalam proses belajar. Jadi sebagai mahasiswa kita perlu menggunakan sistem “Menjemput Bola” artinya kita harus memiliki kreatifitas sendiri untuk menutup kekurangan yang ada. Contohnya apabila di kampus tidak tersedia referensi buku yang memadai, maka mahasiswa seharusnya kreatif mencari buku-buku di Perpustakaan Umum, mahasiswa yang kurang lancar bahasa inggrisnya, maka seharusnya kreatif untuk mengikuti kursus di luar kampus, mahasiswa yang tidak dapat mengoperasikan komputer, hendaknya juga mengikuti kursus komputer di tempat lain. Dengan demikian proses belajar di kampus dapat berjalan dengan lancar, karena sistem belajar di kampus tidak di mulai dari dasar. Oleh karena itulah untuk ilmu-ilmu dasar seharusnya kita cari di luar kampus. Sehingga tidak membuang-buang waktu dan dengan demikian mutu pendidikan mahasiswa meningkat dan Perguruan Tinggi Islam yang idealpun dapat tercapai.
Demikianlah sekelumit kata-kata yang dapat penulis sumbangkan sebagai salah satu anggota insan akademik yang kiranya memiliki andil besar dalam upaya menata Perguruan Tinggi Islam yang ideal yang menjadi idaman bagi seluruh lapisan masyarakat.

Interaksi masyarakat perantauan di kota Sorong dan Problematiknya

Oleh:
Risqiatul Hasanah

Pembangunan yang dilaksanakan negara kita dibidang ekonomi, sedang dalam proses peralihan menuju industrialisasi. Sejalan dengan pertumbuhan masyarakat kita yang lebih maju dewasa ini, terdapat kelompok-kelompok sosial yang memiliki corak dan ragam kehidupannya sendiri. Jika dahulu kita hanya mengenal pembidangan masyarakat kota dan desa, kini masyarakat kita dapat digolongkan kedalam berbagai kelompok, seperti: masyarakat industri, masyarakat nelayan, masyarakat petani, masyarakat transmigran, buruh perkebunan, dan lain seterusnya.
Masing-masing kelompok masyarakat tersebut disamping memiliki kesamaan-kesamaan, juga mempunyai perbedaan-perbedaan, baik dari segi watak, tingkah laku, tingkatan maupun mobilitas sosialnya. perbedaan-perbedaan itu yang biasanya kita sebut sebagai karakteritik sosial, yang menjadi sangat penting untuk dipahami bagi siapa saja yang ingin berhubungan dengannya, agar interaksi dengan mereka berjalan lebih lancar.

Gambaran Interaksi Masyarakat Perantauan di kota Sorong
Masyarakat perantauan secara teoritis maupun faktual mempunyai karakteristik sosial yang sedikit impersonal, dan gerak hidupnya sepertinya disesuaikan dengan kehidupan kota yang selalu mengejar tingkat produksi. Jika diamati secara singkat, maka lingkaran kehidupan masyarakat perantauan ditinjau dari aspek psikologi sosial dapat dibedakan dalam dua keadaan yaitu:
1. Lingkaran kehidupan mereka di perusahaan atau tempat mereka bekerja. Dalam situasi seperti ini, mereka dipisah-pisahkan dalam satuan-satuan kerja berdasarkan keahlian, atau pembidangan pekerjaan. Mereka dibedakan dalam status, hak, dan kewajiban berdasarkan aturan-aturan perusahaan, sehingga terdapat dua lapisan yaitu lapisan karyawan dan lapisan pimpinan.
2. Lingkaran kehidupan karyawan industri di masyarakat, dimana mereka bertempat tinggal. Dalam situasi ini mereka tinggal diperumahan karyawan dan tinggal bersama masyarakat disekitar industry atau perusahaan dimana mereka bekerja.

Refleksi lain dari kehidupan di kompleks perumahan ialah seringkali tumbuhnya sikap elitis yang berlebihan. Sikap elitis ini terjadi karena terhambatnya interaksi lebih luas dengan masyarakat, akibat lokasi pemukiman yang khusus. Dunia kerja mereka dengan dunia sosialnya hampir tidak memiliki jarak dan tidak ada variasi kehidupan yang lebih bernuansa.
Dalam situasi kehidupan transisi seperti itu tidak jarang menimbulkan problema sosial. Penduduk setempat tidak sepenuhnya memberikan peran sosial yang layak dimana mereka tinggal. Kehidupan urban juga mendorong mereka untuk memulai berlatih dengan pola hidup baru, yaitu hidup yang disandarkan pada uang.
Masa transisi membuat sebagian besar mereka kehilangan pegangan ditambah tidak adanya lembaga atau tokoh perorangan sebagai kontrol sosial, yang mampu mendampingi mereka dan memberi petunjuk dalam meniti masa perubahan itu. Ujungnya banyak tindakan kriminal sebagai jalan pintas.
Adapun dalam interaksi sosial mereka dengan sesama rekan kerja, rasa solidaritas sebagai kawan sekerja bisa tumbuh akan tetapi semangat bersaing dan gosip tidak bisa dihindarkan.

Problematik Umum Masyarakat Perantauan
Pada lingkaran masyarakat perantauan terdapat banyak problematik masyarakatnya, yaitu:
1. Kontrol agama lemah dan adanya dominasi aspek ekonomi
Masyarakat perantauan dapat diketahui memiliki ciri-ciri bahwa kegiatan ekonomi lebih dominan. Industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan selalu mendorong perubahan masyarakat dan kemudian masyarakat berusaha mengadakan adaptasi terhadap perubahan tersebut.
Salah satu kegiatan yang menonjol ialah bahwa dalam masyarakat industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan konstelasi organisasi dan lembaga kemasyarakatan berkembang berdasarkan asas fungsionalitas. Karena industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan melahirkan bagian-bagian bidang pekerjaan dalam komposisi yang ketat dan deferensiasi, hal ini membuat masyarakat terkeping-keping dalam kelas-kelas sosial yang luas dan tajam.
Dalam masyarakat yang sistem sosialnya sangat defferensiasif, maka nilai, norma, dan suasana praktek keagamaan sering kali tidak berpengaruh langsung terhadap aspek kehidupan lain. Ada implikasi terhadap kehidupan individu dalam suasana seperti ini, yakni proses defferensiasi yang menimbulkan konflik.

2. Problem latar belakang kultural yang majemuk
Masyarakat perantauan pada dasarnya adalah imigran atau urban dalam arti mereka ini berasal dari latar belakang budaya, suku, dan kebiasaan yang sangat heterogen. Dikawasan kehidupan industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan, mereka satu sama lain melakukan kontak, bukan hanya memiliki kesamaan watak dan pola tingkah laku namun juga karena alasan yang bersifat kultural, seperti melakukan upacara adat atau meneruskan tradisi.
Secara politis bahwa pola interaksi sosial berdasarkan persamaan adat dan kebudayaan tidak dibenarkan. Namun, betapapun secara faktual kecenderungan itu tetap ada. Sentimen kultural masih tercermin dalam kehidupan pergaulan antar manusia. Jika dikawasan tersebut jumlah mereka mayoritas dan memegang kekuasaan, maka kelompok-kelompok budaya minoritas akan mengalah.

3. Problem manusia yang “ Sepi ”
Manusia perantauan seperti ini sebenarnya adalah orang-orang yang kesepian dari segi sentimen kultural maupun agama. Dalam dinamika industri dimana tempat mereka bekerja atau perusahaan yang rutin dan rasional seperti itu, mereka adalah orang-orang yang tercabut dari akar kekerabatan, tradisi, dan kebiasaan bergaul dikampungnya. Oleh karena itu, dalam kawasan baru mereka berusaha memperoleh keakraban, dan kasih sayang. Jika hal-hal seperti ini sulit didapatkan, maka kompensasinya mereka bisa jadi pergi ke tempat-tempat yang membawa dampak negatif.

DAFTAR PUSTAKA

Amidhan,dkk, Methodologi Penerangan Agama Pembinaan Rohani Pada Masyarakat Industri, Jakarta : Proyek Penerangan Bimbingan Khutbah/Dakwah Agama, 1984.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.