Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam

Oleh:

Risqiatul Hasanah

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah Tuhan di bumi karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan. Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.

Adapun Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah Swt., sedangkan sains bertumpu pada diagnosis, eksperimen, dan penarikan konklusi. Pemikiran Islam merupakan pemikiran cemerlang yang tinggi tarafnya sehingga menjunjung harkat manusia sampai pada stratifikasi tinggi hingga berhasil meraih penemuan dalam bidang sains dan teknologi. Al-Qur’an bisa mendorong manusia untuk memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi lebih dari satu ayat, juga mendorong manusia agar merenungkan dirinya sendiri.

Bagi kita cukup bahwa Al-Qur’an tidak berbenturan bahkan sama sekali tidak bertabrakan dengan salah satu fakta ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal. Dan bagi kita cukup, bahwa Al-Qur’an inilah yang telah membukakan jendela-jendela pemikiran orang-orang mukmin, dan menumbuhkan kerinduan dalam diri mereka untuk melakukan penghayatan, perenungan, kontemplasi, penelitian, analisis, dan telaah alami.

Islam memandang bahwa manusia mengetahui kebenaran, meskipun ada bagian rahasia yang tidak diketahui. Manusia mampu mengetahui pengetahuan, kebenaran sebatas modalitas (akal, panca indera, dan pengetahuan permulaan) yang dimilikinya dan berada dalam ketidaktahuan sebatas diluar kapasitas modalitasnya.[1] Selama manusia memiliki persyaratan normal, yaitu kemampuan fisik, mental, lahir dan batin yang sehat, maka ia akan dapat mengetahui. Sementara keterbatasan manusia merujuk pada keterbatasan instrinsik manusiawi ataupun ekstrinsik non manusiawi, keterbatasan yang meskipun ada, namun tidak sampai berakibat menggugurkan nilai kebenaran ataupun keabsahan pengetahuan.

Modalitas manusia untuk mencapai pengetahuan adalah dengan potensi yang dimiliki pada diri manusia, yaitu pancaindera, proses akal, hati, dan informasi terdahulu yang benar.

 

 


 

Formulasi Struktur Manusia Berdasarkan Islam

Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; yang disusun dengan pola tertentu; pengaturan unsur atau bagian suatu benda.[2] Berdasarkan pandangan pada ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam teori struktur manusia, Al-Ghazali menguraikan bahwa struktur manusia (eksistensi manusia) terdiri dari : An-nafs (subtansi yang berdiri sendiri dan bertempat ditubuh), Ar-ruh (panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh darah, otot-otot, dan syaraf-syaraf), dan Al-jism (yang tersusun dari unsur-unsur materi).

Penentuan struktur kepribadian tidak dapat terlepas dari pembahasan subtansi manusia, sebab dengan pembahasan subtansi tersebut dapat diketahui hakikat dan dinamika prosesnya. Pada umumnya para ahli membagi subtansi manusia atas jasad, ruh tanpa memasukkan nafsu.[3]

Masing-masing aspek yang berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh merupakan substansi yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi, karena saling membutuhkan maka diperlukan perantara yang dapat menampung kedua naluri yang berlawanan, yang dalam terminologi psikologi Islam disebut dengan nafs.

1)      Substansi jasmani

Jasad adalah substansi manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik. Organisme fisik manusia lebih sempurna di banding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Setiap makhluk biotik lahiriyah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air. Unsur inilah yang akan rusak apabila telah mati.

 

Al-Ghazali memberikan sifat komponen ini dengan dapat bergerak, memiliki ras, berwatak gelap dan kasar, dan tidak berbeda dengan benda-benda lain. Sementara Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi, sedang menurut Ibnu Maskawaih bahwa badan sifatnya material, Ia hanya dapat menangkap yang abstrak. Jika telah menangkap satu bentuk kemudian perhatiannya berpindah pada bentuk yang lain maka bentuk pertama itu lenyap.

 

2)      Substansi ruhani

Ruh merupakan substansi psikis manusia yang menjadi esensi kehidupannya, merupakan unsur yang paling halus, bersifat suci dan Ilahi karena berasal dari Ilahi, kecenderungannya kepada yang suci, bersih dan mulia, kekal dalam arti tidak hancur karena hancurnya badan jasmani. Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa roh itu memang sesuatu yang ghaib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia, akan tetapi pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghaib masih terbuka karena tidak ada nash agama yang menutup kemungkinannya.[4] Hal ini sesuai dengan firman firman Allah Swt.

قَلِيلا إِلا الْعِلْمِ مِنَ أُوتِيتُمْ وَمَا رَبِّي أَمْرِ مِنْ الرُّوحُ قُلِ الرُّوحِ عَنِ وَيَسْأَلُونَكَ

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.            (QS. Al-Israa’ : 85)

Adapun golongan yang tidak mempercayai adanya ruh yaitu mereka yang menganut paham Historis Materialism, mereka menolak semua alasan-alasan tentang keberadaan ruh.[5]

3)      Substansi nafsani

merupakan unsur penghubung antara jasmani dan ruhani, karena itu ia dapat bersifat dan berkecenderungan seperti jasmani (ilham fujur), tetapi disisi lain ia juga memiliki kecenderungan dan sifat seperti halnya ruhani (ilham taqwa). Keduanya memiliki tarikan yang sama kuat.[6]

 

Aktualisasi nafs membentuk kepribadian manusia. Alqur’an Menyebut empat jenis nafs sesuai dengan potensinya yaitu:

  • Nafs Mutma’innah ; memiliki daya untuk perbuatan baik. Hal ini karena nafsu ini telah suci, karena kesuciannya itulah ia senantiasa terdorong untuk melakukan hal-hal baik.
  • Nafs Mulhamah/Sufiah ; mempunyai potensi kesadaran yang mudah menerima ilmu dan pengetahuan.
  • Nafs Ammarah ; memiliki potensi dan kecenderungan pada hasrat biologis, syahwat, hedonis, bahkan cenderung kepada kejelekan. Merupakan gudang potensi untuk survivalitas hidup manusia (pendorong motivasi keduniaan), karena itu ia tidak boleh dimatikan, melainkan harus dikendalikan.
  • Nafs Lawwamah ; gudang potensi sifat psikologis (emosi  dan perasaan) serta rasional. Karena itulah selalu tidak istiqomah dalam satu keadaan antara ingat dan lupa, menerima lalu menolak, cinta tapi benci, dan seterusnya. Selain sisi buruk juga mempunyai daya positif dari adanya sifat-sifat baik, seperti yakin dan dermawan.

 

 

 


 

Bagan Struktur Daya Jiwa Manusia Berdasarkan Pemahaman

Terhadap Al-Qur’an[7]

Aspek  Jismiah

Badan

Kognitif jismiyah, yaitu kemampuan organ fisik biologis, system syaraf, sel, kelenjar, berupa: makan, tumbuh, dan reproduksi

Dimensi  ar-Ruh

Aspek  Ruhaniah

Dimensi  al-Fitrah

Al-‘Aql

 

Aspek  Nafsiyah

Al-Qalb

An-Nafsu

 

  • nafsu mutma’innah

 

  • nafsu mulhamah

 

  • nafsu ammarah

 

  • nafsu lawwamah

 

berkecenderungan  kepada hal-hal yang baik. pola kerjanya bersifat bolak-balik, hal ini karena sifat kerjanya yang qalaba (bolak-balik)

berkecenderungan kepada hal yang buruk, pola kerjanya menyuruh, sebagai daya dorong  terutama dalam eksistensi hidup

bersifat memutuskan , mengikat, menimbang, dan senantiasa berfikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam

Proses artinya  runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Proses kejiwaan terbentuk dalam waktu yang relatif lama.[8] Hal ini dapat disimpulkan bahwa konsep pembentukan karakter manusia dapat dilihat dari banyak aspek. Menurut ilmuan Barat lebih memandang manusia dari kaca mata empiristik. Sedangkan dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah dimana terdapat daya-daya yang dapat memunculkan sebuah sikap dan perilaku yang tidak lepas dari stimulus dari luar. Artinya, Islam memandang, karakter manusia tidak murni karena faktor potensi, tetapi juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Jadi proses kejiwaan manusia menurut Islam yang paling berperan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang adalah[9] :

  • Faktor Keturunan: studi dan riset tentang DNA menyebutkan bahwa faktor keturunan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang.
  • Faktor Sosial: lingkungan sekitar mempunyai peranan yang tidak dapat disepelekan dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Faktor sosial merupakan lingkungan masyarakat yang didalamnya terdapat interaksi individu dengan individu lain. Lingkungan ada 3 macam yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat. Pengaruh lingkungan keluarga lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat.[10] Akan tetapi melalui kerjasama yang baik antara 3 lingkungan tersebut (orang tua di rumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat) maka aspek kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengamalan) ajaran yang akan diajarkan akan terbentuk pada diri anak. [11]

 

 

Dari penjabaran artikel penulis diatas mengenai “Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam” dapat penulis simpulkan bahwa :

  1. Berdasarkan pandangan pada ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya dalam teori struktur manusia, bahwa struktur manusia (eksistensi manusia) terdiri dari: An-nafs (subtansi yang berdiri sendiri dan bertempat ditubuh), Ar-ruh (panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh darah, otot-otot, dan syaraf-syaraf), dan Al-jism (yang tersusun dari unsur-unsur materi).
  2. Manusia dalam perkembangan proses kejiwaannya dengan sudut kajian Qur’ani tidak lepas dari lingkungannya. Begitu pula dalam proses mematangkan kepribadiannya, peran dan pengaruh lingkungan tidak bisa dinomorduakan, walaupun tidak pula menempati nomor satu karena ada faktor keturunan yang juga berperan sama besarnya. Dari peralatan fisik dan psikis  dalam diri individu yang membentuk karakternya yang unik dalam penyesuaian dengan lingkungan inilah maka terbentuk pribadi yang dinamis.

 

Dengan adanya wawasan mengenai “Konsep Struktur dan Proses Kejiwaan Manusia Menurut Islam” maka penulis mengharapkan untuk selalu mawas diri, instropeksi agar kita bisa menilai posisi dan kondisi kita saat ini untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Yadi Purwanto, Psikologi Islami, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

WWW.Google.Com.

Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2004.

Alex Sobur, Psikologi Umum, Jakarta: Pustaka Setia, 2003.

Karim Asy-Syadzili, Inspiring Women, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Grup, 2008.

Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984.

Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 2003.

Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Yadi Purwanto, Psikologi Islami, (Bandung: Refika Aditama, 2007, Cet 1),h. 126.

[2] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun. (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),h. 1043.

[3] Internet diakses di  WWW.Google.Com. tgl. 27 September 2010. jam 21.15 WIT

[4] Internet diakses di  WWW.Google.Com. tgl. 05 Oktober 2010. jam 23.00 WIT.

[5] Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984, Cet 2),h. 257.

[6] Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009),h.27.

[7] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, (Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h.237.

[8] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Jakarta: Pustaka Setia, 2003, Cet 1),h. 510.

[9] Karim Asy-Syadzili, Inspiring Women, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Grup, 2008, Cet 1),h. 12.

[10] Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Offset, 2003), h. 27.

[11] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), h.171.

About risqiyani

Mir'ah Wa Mar'ah

Posted on Juni 23, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: